Kepsek Hamron Roiya: “Yang penting bukan hanya bisa membaca dan berhitung, tapi mampu menerapkannya.”
TRIBUNCHANNEL.COM–Lampung Utara– Nusantaratoday.id – SMKN 2 Kotabumi mendorong penguatan budaya literasi dan numerasi sebagai bagian dari pembiasaan siswa dalam memahami informasi hingga memecahkan persoalan sehari-hari.
Hal itu disampaikan Kepala SMKN 2 Kotabumi, Hamron Roiya, S.Pd., M.M., dalam kegiatan sosialisasi literasi dan numerasi di lingkungan sekolah, Jumat (2/10/2026).
Hamron mengatakan, literasi dan numerasi tidak boleh dipahami sebatas kemampuan membaca dan berhitung. Menurutnya, kedua kemampuan tersebut harus dapat diterapkan siswa dalam kehidupan nyata.
“Gerakan literasi dan numerasi sekolah merupakan program pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan siswa memahami teks serta menggunakan angka atau simbol dalam memecahkan masalah sehari-hari,” ujar Hamron.
Ia menjelaskan, penguatan literasi dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana yang diterapkan secara konsisten. Salah satunya dengan membiasakan siswa membaca buku nonpelajaran selama 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajar.
Sekolah juga dapat menyediakan pojok baca di setiap kelas, menjadwalkan kunjungan perpustakaan, mengaktifkan majalah dinding hingga menggelar kegiatan Bulan Bahasa.
Kegiatan tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai aktivitas, seperti cerdas cermat, menulis, cipta puisi hingga pemilihan duta literasi.
Sementara untuk numerasi, Hamron menekankan pentingnya pembelajaran yang dikaitkan dengan situasi nyata yang dekat dengan kehidupan siswa.
“Numerasi dapat diterapkan melalui konteks nyata, misalnya siswa diajak menghitung kepadatan penduduk, membaca grafik, menganalisis data maupun melakukan pengukuran secara langsung,” jelasnya.
Menurut Hamron, numerasi juga dapat dikemas melalui permainan hitungan dan pola logika. Cara tersebut dinilai dapat membuat pembelajaran lebih menarik sehingga siswa tidak mudah merasa jenuh.
Kemampuan membaca tabel, diagram dan infografis pun, lanjut dia, dapat diterapkan dalam berbagai mata pelajaran. Dengan demikian, penguatan numerasi bukan hanya menjadi tanggung jawab guru matematika.
Aktivitas sederhana seperti membandingkan ukuran benda, berat produk serta mengukur volume cairan dalam satuan gram dan liter juga dapat digunakan sebagai pembelajaran numerasi yang aplikatif.
Hamron menambahkan, lingkungan sekolah juga perlu dibuat lebih kaya dengan unsur literasi dan numerasi. Poster rumus, teka-teki angka hingga infografis data dapat ditempatkan di sejumlah titik yang mudah dilihat siswa.
“Dengan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, literasi dan numerasi diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan sekolah, tetapi menjadi bagian dari budaya belajar siswa,” pungkasnya.
Darwis/red



















