Di Balik Aspal Hotmix : Catatan Warga atas Jalan Puuwada–Mauponggo
TribunChanel.com -Nagekeo
Di tanah yang dibingkai perbukitan dan disirami cahaya pagi, jalan adalah lebih dari sekadar infrastruktur. Ia adalah denyut nadi yang mengalirkan kehidupan —mengantar hasil kebun ke pasar, menghubungkan anak-anak dengan sekolah, dan memendekkan jarak antara harapan dan kenyataan.
Karena itu, ketika alokasi Dana APBN senilai hampir Rp10 miliar digelontorkan untuk pembangunan jalur Puuwada–Mauponggo, masyarakat Keo Tengah dan Mauponggo menyambutnya dengan syukur yang dalam.

Bertahun-tahun mereka menanti perbaikan akses yang selama ini menjadi keluhan : sempit, berlubang, dan berdebu di musim kemarau, licin dan berlumpur saat hujan turun.
Kini, badan jalan tampak lebih lebar. Permukaan hotmix mengilap di bawah terik matahari. Kendaraan melaju lebih mulus. Secara kasat mata, pembangunan itu menjadi simbol kemajuan yang lama dinantikan.
Namun di balik rasa senang itu, terselip kegelisahan.
Suara tersebut datang dari seorang tokoh muda ; Erwin Gore, seorang warga Keo Tengah yang juga sebagai pengguna aktif jalur tersebut. Pada Senin, 23 Februari 2026, melalui unggahan singkat di Group WhatsApp KEO TENGAH FAMILY, Erwin menyampaikan keprihatinannya. Ia menduga pekerjaan proyek dilaksanakan secara terburu-buru, lebih mengejar target penyelesaian daripada menjamin kualitas konstruksi.

Dalam narasinya, Erwin menyoroti proses pemadatan beberapa lapisan dasar jalan—mulai dari agregat C (urpil), agregat B, hingga agregat A sebelum penghamparan hotmix, yang menurutnya terkesan dilakukan sebelum uji kepadatan dan uji kadar air (sandcone) dilaksanakan secara memadai.
Dalam praktik konstruksi jalan, tahapan tersebut merupakan fondasi utama. Setiap lapisan harus melalui pengujian teknis untuk memastikan tingkat kepadatan dan kadar air sesuai standar, sehingga mampu menopang beban lalu lintas dalam jangka panjang. Tanpa proses yang disiplin, risiko kerusakan dini sulit dihindari.
Dugaan itu, kata Erwin, diperkuat oleh kondisi di lapangan. Di beberapa titik, terlihat aspal mulai pecah dan terkelupas. Permukaan yang semula rata menunjukkan retakan halus, seakan memberi sinyal bahwa lapisan di bawahnya belum cukup kuat. “Dasarnya masih goyang,” tulisnya.
Fenomena ini memunculkan ironi. Di satu sisi, banyak warga bersuka cita karena jalan kini lebih representatif dan nyaman dilalui. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa kualitas pekerjaan tidak sebanding dengan besarnya anggaran yang digelontorkan.
“Miris, kualitas pekerjaan sangat disayangkan,” ungkap Erwin dalam unggahannya.
Ia menegaskan bahwa kritik tersebut lahir dari kepedulian sebagai pengguna jalan, bukan dari niat menjatuhkan pihak tertentu. Ia berharap masyarakat dan pemerintah daerah peka terhadap kondisi ini dengan melakukan evaluasi menyeluruh agar kerusakan yang ada tidak berkembang menjadi kerusakan berat.
Dana hampir Rp10 miliar bukan angka kecil bagi wilayah ini. Ia adalah amanah publik—uang rakyat yang semestinya berbuah infrastruktur berkualitas dan tahan lama. Jalan yang baik tidak hanya indah di permukaan, tetapi kokoh di fondasi dan kuat menghadapi musim.
Pembangunan, pada akhirnya, bukan sekadar tentang menyelesaikan proyek tepat waktu atau merampungkan laporan administrasi. Ia adalah tentang tanggung jawab moral : memastikan setiap rupiah menghadirkan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Di Keo Tengah dan Mauponggo, syukur dan harap kini berjalan berdampingan dengan kegelisahan. Warga berharap agar jalan Puuwada – Mauponggo benar-benar menjadi penghubung masa depan, bukan sekadar lapisan aspal yang mengilap sesaat.
Sebab jalan adalah simbol kepercayaan. Dan kepercayaan, sekali retak, jauh lebih sulit diperbaiki daripada aspal yang pecah.
.Embu/Red



















