Sulut Maju atau Mundur? Isu Lingkaran Kekuasaan Guncang Kepercayaan Publik
TRIBUNCHANNEL.COM –Sulawesi Utara– Kepercayaan publik adalah aset paling berharga dalam pemerintahan. Sekali retak, membangunnya kembali jauh lebih sulit daripada membangun infrastruktur fisik.
Belakangan ini, ruang digital Sulawesi Utara diramaikan oleh berbagai isu yang beredar luas melalui media sosial dan grup-grup WhatsApp.
Narasi yang berkembang adanya dugaan keterlibatan oknum di lingkaran kekuasaan “Gedung Putih Sulut” dalam praktik pengaturan proyek dan jual beli jabatan.
Benar atau tidaknya isu tersebut masih harus dibuktikan.
Namun, satu hal yang tidak bisa diabaikan adalah dampaknya terhadap kepercayaan masyarakat.
Ketika sebuah isu menyebar begitu cepat tanpa penjelasan yang memadai, ruang publik akan dipenuhi spekulasi.
Dalam situasi seperti itu, diam sering kali justru ditafsirkan sebagai pembenaran oleh sebagian masyarakat.
Masyarakat Sulawesi Utara memilih pemimpinnya dengan harapan hadirnya pemerintahan yang bersih, profesional, dan bebas dari praktik yang mencederai rasa keadilan.
Karena itu, jika orang-orang di sekitar pemimpin justru menjadi pusat pembicaraan publik, maka yang dipertaruhkan bukan hanya nama individu, tetapi juga kredibilitas pemerintahan secara keseluruhan.
Slogan “Sulut Maju” tentu tidak cukup hanya menjadi kalimat yang indah di spanduk dan podium.
Kemajuan harus tercermin dalam tata kelola pemerintahan yang transparan, meritokratis, dan bebas dari intervensi kepentingan kelompok tertentu.
Bila publik mulai mempertanyakan integritas orang-orang di lingkaran kekuasaan, maka slogan tersebut akan kehilangan makna di mata masyarakat.
Begitu pula dengan semangat “Satu Komando”. Prinsip itu seharusnya dimaknai sebagai kesatuan visi untuk melayani rakyat, bukan menjadi ruang bagi segelintir orang yang diduga memanfaatkan kedekatan dengan pusat kekuasaan demi kepentingan pribadi.
Seorang pemimpin dapat memiliki visi besar, tetapi visi itu akan runtuh apabila orang-orang di sekitarnya gagal menjaga integritas.
Isu yang kini beredar dipastikan akan menjadi bahan pembicaraan di rumah kopi, kantor, kampus, hingga media sosial.
Di era digital, persepsi publik terbentuk sangat cepat.
Karena itu, membiarkan isu berkembang tanpa klarifikasi hanya akan memperbesar ruang bagi opini liar yang akhirnya merugikan semua pihak.
Jika isu tersebut hanyalah fitnah atau propaganda politik, maka pemerintah berkepentingan untuk menjawabnya secara terbuka agar kepercayaan masyarakat tidak terus terkikis.
Sebaliknya, apabila terdapat indikasi pelanggaran hukum, maka proses penegakan hukum harus berjalan tanpa pandang bulu.
Tidak boleh ada kekebalan hukum hanya karena kedekatan dengan kekuasaan.
Masyarakat Sulawesi Utara tidak membutuhkan drama politik ataupun perang narasi.
Yang dibutuhkan adalah pemerintahan yang bersih, transparan, dan berani menunjukkan bahwa integritas bukan sekedar slogan, melainkan prinsip yang dijalankan dalam setiap kebijakan.
Kepercayaan rakyat tidak boleh dipertaruhkan oleh isu yang dibiarkan tanpa jawaban.
Sebab ketika kepercayaan itu hilang, yang mundur bukan hanya citra pemerintah, melainkan juga harapan masyarakat pada masa depan Sulawesi Utara.
Stefanus/Red



















