Keubitbit Jelajahi Panggung Jazz Dunia,
TRIBUNCHANNEL.COM– Jakarta – Berangkat dari Jakarta, Keubitbit terus mengembangkan musik yang terinspirasi dari kekayaan bunyi Aceh. Dengan menggabungkan unsur musik tradisi dan pendekatan modern, band ini membangun karakter musikal yang mempertemukan akar budaya dengan berbagai kemungkinan baru dalam musik.
Terbentuk pada 2014, Keubitbit tidak sekadar memainkan kembali musik tradisional Aceh. Band ini mencoba mengolah ritme, melodi, karakter perkusi, dan berbagai unsur musikal menjadi aransemen baru yang bisa dinikmati oleh pendengar dari latar belakang berbeda.
Perjalanan ini membawa Keubitbit tampil di berbagai panggung internasional. Pada 2017, mereka tampil di Amsterdam, Belanda. Pada 2023, Keubitbit melanjutkan perjalanan ke Rusia melalui Sirius Jazz Days di Sochi, International Festival The Triumph of Jazz di Moskow, dan Moscow Jazz Festival. Setahun kemudian, mereka tampil di International Jazz Festival Dr. Emil Iliev di Borovets, Bulgaria.
Pada Juli 2026, Keubitbit kembali membawa musik mereka ke Kanada melalui Niagara Jazz Festival di Ontario, kemudian melanjutkan perjalanan ke Toronto untuk mengadakan lokakarya produksi lagu-lagu Keubitbit. Dalam kesempatan tersebut, mereka juga berbagi pengalaman mengenai tantangan yang dihadapi seniman Indonesia dalam memperjuangkan karya-karya yang berakar pada kekayaan budaya Nusantara di tengah perkembangan industri musik yang terus berkembang.
Perjalanan ke Kanada menjadi salah satu agenda penting bagi Keubitbit, sekaligus terjauh yang pernah mereka tempuh untuk memperkenalkan musik mereka ke panggung internasional. Di balik terealisasinya perjalanan ini, terdapat berbagai tantangan dan proses yang tidak mudah. Perjalanan ini menjadi bagian dari upaya Keubitbit untuk membawa kekayaan bunyi Aceh dan Nusantara ke panggung internasional, sekaligus membagikan pesan-pesan positif melalui karya musik mereka.
Bagi Aloel, selaku Leader dan vokalis Keubitbit, perjalanan ke berbagai negara bukan hanya tentang tampil di panggung internasional, tetapi tentang memperkenalkan tempat di mana bunyi itu berasal.
“Saya punya mimpi ada masa di mana orang-orang akan ke Indonesia dan belajar corak musik Nusantara langsung di tempatnya seperti Aceh.”
Salah satu pencapaian penting Keubitbit adalah penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2020 untuk kategori Karya Produksi World Music Terbaik melalui lagu “Saban Sabee”. Lagu tersebut merupakan karya Rafly Kande dan Aloel sebagai komposer dan diproduksi oleh Keubitbit dalam pendekatan musik kontemporer. “Saban Sabee” juga membawa pesan betapa pentingnya persatuan, saling mendengarkan, saling memberi perhatian sesama manusia.
Selain itu, karya “Raja Taki” mendapatkan nominasi kategori karya produksi global musik terbaik AMI Awards 2024. Lagu ini mengangkat persoalan kebohongan, kemunafikan, dan pentingnya menyadari konsekuensi dari tindakan manusia. Melalui karya-karya seperti ini, Keubitbit menunjukkan bahwa eksplorasi musik dapat berjalan beriringan dengan pesan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Saya sangat ingat karya Keubitbit ‘Raja Taki’ pertama kali dibawakan di luar negeri itu di International Jazz Festival Dr. Emil Iliev. Apresiasi luar biasa yang kurasakan di saat orang-orang Bulgaria tidak mengerti arti lirik yang kami bawakan, tetapi mereka menikmati bunyi dan ritmenya. Kupikir itu pengalaman mendengar yang baru juga untuk mereka. Selain itu, komunitas musik dan festivalnya memang menyediakan ruang bagi musik lintas budaya untuk ditemukan di sana,” ujar Didin Marlin selaku gitaris Keubitbit.
Perjalanan Keubitbit dari Jakarta ke berbagai panggung internasional menjadi bagian dari proses panjang mereka dalam mengembangkan identitas musik. Memperkenalkan kekayaan bunyi Aceh tidak berarti harus berhenti pada bentuk tradisional, tetapi juga membuka kesempatan untuk menciptakan ekspresi baru yang relevan dengan masa kini.
Saat ini Keubitbit sedang menyusun album dan di antaranya akan ada kolaborasi dengan seniman senior dan penyanyi lintas negara. Keubitbit ingin terus melangkah melalui musik yang terbuka terhadap eksplorasi, tetap terhubung dengan akar budayanya, dan membawa cerita dari Indonesia kepada pendengar yang lebih luas.
Ysf/Red



















