Rumah Bersama dan Tafsir Yang Tergesa : Ketika ‘Ajakan’ Dibaca Sebagai ‘Retorika’

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 4 Januari 2026 - 13:32 WIB

Ikuti Medsos Kami :

instagram youtube tiktok
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Berita opini Nagekeo Nusa Tenggara Timur.

TRIBUNCHANNEL.COM –NAGEKEO – Istilah rumah bersama kerap menjadi kata yang mudah disalahpahami. Ia bisa ditarik ke banyak arah, ditafsirkan sesuai kepentingan, bahkan dicurigai sebagai kemasan retorika politik belaka. Dalam ruang demokrasi, perbedaan pandangan adalah cahaya yang saling menerangi—namun cahaya itu hanya bekerja jika diarahkan pada objek yang tepat. Ketika sorot lampu diarahkan ke bayangan, yang tampak bukan kebenaran, melainkan siluet prasangka.

 

Ilustrasi yang ditulis Jeratus Nian di IDN Times, “Membedah Narasi ‘Rumah Bersama’: Antara Retorika Inklusif dan Realitas”, hadir sebagai pantulan kritis atas opini Tribun Channel, yang berjudul “Awal Tahun 2026: Nagekeo Kita, Rumah Bersama yang Terus Diperjuangkan”, sebuah upaya yang layak dihargai dalam tradisi dialog intelektual. Namun di titik inilah kita perlu berhenti sejenak, mendengarkan kesunyian makna yang terlewat: kritik tersebut tumbuh bukan dari tubuh teks yang ditanggapi, melainkan dari tafsir yang terlanjur berlari jauh dari maksud awalnya.

 

Opini Tribun Channel tidak lahir sebagai slogan kekuasaan, tidak pula sebagai mantra yang dimaksudkan untuk menghapus jejak sejarah. Ia adalah opini persuasif-reflektif, sebuah bisikan di awal tahun yang mengajak kita memandang Nagekeo sebagai satu ruang hidup—ibarat rumah yang atapnya menaungi semua, meski dindingnya masih menyimpan retak-retak lama. Rumah bersama bukan ajakan untuk lupa, melainkan ajakan untuk tinggal bersama, luka tanpa terus-menerus saling melukai.

 

Di dalam rumah itu, sejarah tidak disangkal. Ia digantung rapi di dinding ingatan, agar siapa pun yang melangkah masuk tahu dari mana kita datang. Maka menjadi keliru ketika opini Tribun Channel ini ditafsirkan sebagai upaya menyingkirkan kritikan dari tim lama, atau sebagai desakan agar masyarakat “move on” secara dangkal. Tidak ada kalimat yang mengulas tentang hal itu, tidak ada paragraf yang merendahkan suara kritis. Yang ada hanyalah seruan etis: beranikah kita memberi kesempatan pada masa depan tanpa menutup mata dari masa lalu?

Baca Juga :  Polres Kendal Melalui Anggota Intel Berikan Bantuan Hewan Qurban Kepada Ponpes Abu Bakar Weleri

 

Opini Tribun Channel hanya mengajak publik untuk memberi ruang kerja kepada pejabat publik yang telah dilantik—meski kemarin berdiri di barisan politik yang berbeda. Bukan sebagai bentuk pemakluman, melainkan sebagai ujian. Bukan dengan kepercayaan buta, melainkan dengan mata yang waspada. Jika kinerja mereka baik, hasilnya tentu untuk kita semua. Jika buruk, kritik tetap menjadi hak, bahkan kewajiban. Bukankah keadilan sosial tumbuh dari keseimbangan antara memberi peluang dan menjaga jarak kritis?

 

Dalam logika ilmu administrasi publik, sikap ini adalah bentuk kedewasaan tata kelola. Pemerintahan tidak dijalankan oleh dendam elektoral, melainkan oleh profesionalisme, akuntabilitas, dan evaluasi yang berkesinambungan. Mendukung secara kritis bukan tanda lemah prinsip, tetapi bukti kesetiaan pada kepentingan bersama.

 

Namun ilustrasi IDN Times justru melangkah ke lorong lain: menghadirkan narasi tentang sahabat baru yang dipeluk hangat, sementara sahabat lama yang berdarah-darah ditinggalkan di tepi jalan sejarah. Narasi ini indah secara emosi, tetapi asing dalam konteks. Opini Tribun Channel tidak pernah mengafirmasi pengkhianatan, tidak pula memuliakan lupa. Maka wajar jika publik bertanya: mengapa kisah itu dipersoalkan sebagai tanggapan atas teks opini Tribun Channel yang tidak pernah mengulasnya?

 

Pertanyaan penutup Jeratus Nian—“Apakah ini bentuk kedewasaan sosial, atau sekadar sikap selfish demi kenyamanan posisi?”—menjadi gema yang menggantung di udara. Ia tajam, tetapi kehilangan sasaran. Jika diarahkan pada opini Tribun Channel, jawabannya sederhana: pertanyaan itu berdiri di atas asumsi yang tidak pernah ditawarkan oleh teks opini asal. Di sini, yang rapuh bukanlah gagasan rumah bersama, melainkan ketelitian dalam memahami sebuah teks.

Baca Juga :  Puluhan Warga Desa Tlogopakis Kini Bisa Bernapas Lega, Permasalahan Bantuan RTLH Tuntas

 

Menarik pula ketika ilustrasi IDN Times menyinggung teori Robert Putnam tentang fragmentasi sosial, sebagai dasar referensi ilmiah dalam opini Trimbun Channel. Rujukan ini seharusnya menjadi jembatan dialog akademik. Sebab dengan mengutip Putnam, opini Tribun Channel justru berusaha keluar dari retorika kosong menuju refleksi yang berakar. Namun ketika IDN Times mempersoalkannya dengan memberi pernyataan tegas bahwa—“kohesi sosial hancur bukan hanya karena perbedaan pilihan politik, melainkan karena hilangnya kepercayaan”—kita patut berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur: ini suara teori siapa? Tanpa penjelasan sumber, kalimat itu berubah dari argumentasi menjadi aforisme.

 

Opini Tribun Channel tidak menyangkal pentingnya kepercayaan. Justru ia menegaskan bahwa kepercayaan bukan hadiah yang jatuh dari langit, melainkan hasil dari kerja yang diuji waktu. Rumah bersama tidak dibangun dari janji, tetapi dari praktik. Dari kesediaan memberi kesempatan, dan keberanian untuk menegur ketika harapan dikhianati.

 

Pada akhirnya, rumah bersama bukan bangunan tanpa konflik. Ia adalah ruang hidup yang menuntut kesabaran, kejujuran, dan ketelitian membaca satu sama lain. Ia tidak runtuh oleh kritik, tetapi oleh salah paham yang dibiarkan berlarut. Ia tidak hancur oleh perbedaan, tetapi oleh dialog yang berhenti di permukaan.

 

Jika ilustrasi IDN Times hendak mengangkat kegelisahan tentang hilangnya loyalitas dan runtuhnya etika pertemanan politik, itu adalah tema yang layak diperjuangkan. Namun akan lebih adil jika kegelisahan itu berdiri sebagai opini tersendiri, bukan disematkan pada teks yang tidak pernah memikul beban tersebut.

 

Sebab rumah bersama hanya akan benar-benar menjadi tempat pulang, ketika kita membaca dengan hati yang tenang, menafsirkan dengan pikiran yang jernih, dan berbicara bukan kepada bayangan, melainkan kepada makna yang sungguh-sungguh hadir.

 

Tribun Chanel

Red – E. Embu

Berita Terkait

Wako Hendri Arnis Ikuti Festival Usaha Mikro, Perkuat Pengembangan UMKM Daerah
Dituding Selewengkan Dana BOSP Rp2,4 Miliar, Kepsek SMKN 1 Kalianda Buka Suara
Dugaan Aktivitas PETI Firman Pakaya Berjalan Lancar, Penertiban Jangan Tebang Pilih
Padang Panjang Ikuti Pembahasan Optimalisasi Aset dan BUMD Bersama Komisi II DPR RI
Porprov Sumbar XVI Dibuka, Padang Panjang Turunkan 174 Atlet di 24 Cabor
PS Pasbar Tahan Imbang Tanah Datar 1-1 di Porprov XVI Sumbar
Wako Hendri Arnis Tinjau Lokasi Kecelakaan, Perkuat Langkah Pencegahan untuk Keselamatan Pengguna Jalan
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Ketua DPC GRIB Jaya Way Kanan Ajak Kader Rawat Persatuan Bangsa
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:28 WIB

Wako Hendri Arnis Ikuti Festival Usaha Mikro, Perkuat Pengembangan UMKM Daerah

Jumat, 9 Oktober 2026 - 11:31 WIB

Dituding Selewengkan Dana BOSP Rp2,4 Miliar, Kepsek SMKN 1 Kalianda Buka Suara

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:19 WIB

Dugaan Aktivitas PETI Firman Pakaya Berjalan Lancar, Penertiban Jangan Tebang Pilih

Rabu, 7 Oktober 2026 - 05:51 WIB

Padang Panjang Ikuti Pembahasan Optimalisasi Aset dan BUMD Bersama Komisi II DPR RI

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:20 WIB

Porprov Sumbar XVI Dibuka, Padang Panjang Turunkan 174 Atlet di 24 Cabor

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:03 WIB

PS Pasbar Tahan Imbang Tanah Datar 1-1 di Porprov XVI Sumbar

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:41 WIB

Wako Hendri Arnis Tinjau Lokasi Kecelakaan, Perkuat Langkah Pencegahan untuk Keselamatan Pengguna Jalan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:40 WIB

Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Ketua DPC GRIB Jaya Way Kanan Ajak Kader Rawat Persatuan Bangsa

Berita Terbaru