Antologi “50 Tahun Cahaya”, Persembahan Para Pejalan untuk Dian Sukma
TRIBUNCHANNEL.COM-JAKARTA – Sebuah buku antologi berjudul “50 Tahun Cahaya” menjadi salah satu persembahan istimewa dalam rangka ulang tahun ke-50 Dian Sukma pada acara SUPERCOOL 50 Years of Legacy yang berlangsung di Hotel Luwansa, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Buku tersebut merupakan karya kolaboratif para pejalan, sahabat, murid, dan orang-orang yang pernah bertumbuh bersama Dian Sukma. Melalui tulisan-tulisan yang terkumpul di dalamnya, para penulis membagikan pengalaman, refleksi, rasa syukur, serta pelajaran hidup yang mereka peroleh selama mengenal sosok Dian Sukma.
Antologi “50 Tahun Cahaya” disusun sebagai bentuk penghormatan atas perjalanan hidup Dian Sukma yang selama lima dekade telah menginspirasi banyak orang untuk mengenali diri, bertumbuh, dan menjalani kehidupan dengan lebih bermakna. Buku ini juga menjadi hadiah ulang tahun yang dipersembahkan secara khusus oleh para pejalan untuk sosok yang mereka kenal sebagai sahabat, guru, dan inspirator kehidupan.

Buku tersebut diawali dengan kata pengantar dari Ai Syafrida atau yang akrab disapa Mom Ai, sahabat terdekat Dian Sukma. Dalam pengantarnya, Mom Ai mengajak pembaca menyelami makna perjalanan, persahabatan, dan jejak cahaya yang telah dibagikan Dian Sukma kepada banyak orang.
Penyerahan antologi dilakukan dalam sesi persembahan “50 Tahun Cahaya” yang menjadi bagian dari rangkaian acara SUPERCOOL 50 Years of Legacy. Momen tersebut berlangsung penuh kehangatan dan haru, terlebih karena buku itu dipersiapkan sebagai persembahan spesial yang melibatkan banyak pihak.
Sebanyak 21 penulis terlibat dalam penyusunan antologi ini. Mereka berasal dari berbagai daerah dan latar belakang, namun dipertemukan oleh pengalaman yang sama, yaitu perjalanan bertumbuh dan belajar bersama Dian Sukma.

Para penulis yang berkontribusi dalam antologi tersebut antara lain Dyah Sardjuningrum Sitawati, Ninik K, Liana, Ely Haryanti, Marisi Holong Simarmata, Kakang Slamet Hidayat, Eri Kusmeri, Fazar Fauzirahman, Nur Jamal, Revi Puspitasari, Ratu Andayani, Sri Nurkhayati, Umi Sholikah, Nafakhatin Nur, Muhammad Dodi Kurniawan, Yusuf Balweel dan Hella Hadil, Novi Fitriani, Chicha Kuswoyo, Nadia Moertheza, Aulia Rahma, serta Rejeki Listyarini.
Pada akhir sesi, seluruh penulis antologi naik ke atas panggung untuk melakukan foto bersama. Kebersamaan tersebut menjadi simbol ikatan yang terjalin melalui proses belajar, berbagi pengalaman, dan perjalanan kehidupan yang telah dilalui bersama.
Melalui antologi “50 Tahun Cahaya”, para penulis berharap nilai-nilai kebaikan, semangat bertumbuh, dan kesadaran untuk mengenali diri dapat terus menyebar dan memberi manfaat bagi lebih banyak orang.
Ratu Andayani/Red



















