Kiyai Agus Lukmanul Hakim, Lc dan tokoh tokoh NU Rajekwesi
TRIBUNCHANNEL.COM–JEPARA – Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Desa Rajekwesi, Kabupaten Jepara, menggelar rutinan selapanan pada Rabu (4/11/2026). Kegiatan yang berlangsung di Masjid Baiturrahim, Dukuh Kedung Centong tersebut dihadiri sekitar 500 jemaah, terdiri atas jajaran pengurus Ranting NU, pimpinan badan otonom (Banom), lembaga NU, serta masyarakat setempat.
Kegiatan diawali dengan pembacaan Surah Al-Fatihah, dilanjutkan tahlil yang dipimpin Nadzir Masjid Baiturrahim, Kiai Samporno, S.Pd. Pembacaan tahlil tersebut ditujukan untuk mendoakan para sesepuh dan pendahulu yang telah wafat.
Ketua Ranting NU Desa Rajekwesi, Kiai Nasir, dalam sambutannya menyampaikan perkembangan kepengurusan NU yang mengalami transformasi dari masa ke masa. Salah satu perubahan penting adalah keterlibatan perempuan dalam struktur kepengurusan, sesuai arahan Majelis Wakil Cabang (MWC) NU.
Menurutnya, kepengurusan saat ini telah memberikan ruang bagi kaum perempuan untuk berperan aktif, di antaranya melalui kepengurusan Lazisnu, JQH, dan sejumlah lembaga lainnya. Hal tersebut menjadi bagian dari penguatan organisasi agar semakin inklusif dan melibatkan lebih banyak kader.
Kiai Nasir juga mengajak masyarakat untuk menggalakkan gerakan Kotak Koin Lazisnu secara istiqomah, dimulai dari lingkungan internal pengurus sebelum meluas kepada masyarakat. Selain itu, ia mendorong agar reorganisasi Pimpinan Ranting IPNU dan IPPNU segera dilaksanakan sebagai wadah kaderisasi dan pendidikan organisasi bagi generasi muda.
Memasuki acara inti, pengajian kitab disampaikan Kiai Agus Lukmanul Hakim, Lc. Dalam kajiannya, ia menegaskan bahwa ilmu agama merupakan ruh dalam kehidupan umat Islam. Karena itu, keistiqamahan mengikuti majelis ilmu perlu terus dijaga.
“Rutinan selapanan ini bukan sekadar tempat untuk mengirim doa kepada para sesepuh yang telah mendahului kita, melainkan juga sebagai wadah untuk ‘mengecas’ keilmuan kita sebagai warga NU,” ungkap Kiai Agus.
Melalui kajian Kitab Bidayatul Hidayah, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara ibadah dan aktivitas kehidupan sehari-hari. Ia mengisahkan dialog Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Sahabat Hanzhalah mengenai kondisi keimanan seseorang yang terkadang terasa kuat ketika berada di majelis Nabi, tetapi mengalami perubahan saat kembali menjalani urusan duniawi. Pesan dari kisah tersebut adalah pentingnya menjaga iman dan ketakwaan, baik ketika berada di majelis ilmu maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Kiai Agus turut mengingatkan bahwa akal sehat merupakan nikmat besar dari Allah SWT yang harus digunakan dengan baik, terutama untuk memahami ilmu agama. Ia mengajak jemaah meluruskan niat ketika menghadiri majelis ilmu, dengan tujuan beriktikaf, memperoleh ilmu yang bermanfaat, serta mengharapkan hidayah Allah SWT.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan ramah tamah untuk mempererat silaturahmi antarwarga dan pengurus, dilanjutkan doa bersama yang dipimpin Kiai Agus Lukmanul Hakim, Lc. Acara kemudian diakhiri dengan pembacaan Surah Al-Fatihah dan selawat bersama seluruh jemaah.
Ratuandayani/Red



















