TMII Bergemuruh, Jateng Resmi Gaungkan Revolusi Pangan Non-Beras
TRIBUNCHANNEL.COM-JAKARTA- Semangat diversifikasi pangan dan kebangkitan UMKM lokal menggema dari Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Jumat (10/7/2026). Festival Olahan Pangan Jawa Tengah Berbahan Non-Beras dan Non-Terigu Tahun 2026 resmi dibuka melalui pemukulan gong oleh Gubernur Jawa Tengah yang diwakili Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto, ST., MT.
Pemukulan gong yang didampingi unsur Forum Bisnis Jawa Tengah, Paguyuban Jawa Tengah, DPRD Provinsi Jawa Tengah, dan Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah tersebut menjadi penanda dimulainya festival yang menghadirkan puluhan pelaku UMKM dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Acara pembukaan berlangsung meriah dan dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Sekretaris DPRD Provinsi Jawa Tengah Agung Haryadi, Ketua Umum Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Ingrid Kansil, Wakil Direktur Bank Jateng Cabang Jakarta, Ketua Paguyuban Jawa Tengah, Ketua Forum Bisnis Jawa Tengah, Direktur PT Samuel Asset Management, Plt Direktur Operasi TMII, para kepala UPT bidang ketahanan pangan, perdagangan dan UMKM kabupaten/kota se-Jawa Tengah, serta ratusan pelaku UMKM peserta festival.
Pangan Lokal Jadi Kekuatan Baru Ekonomi
Dalam sambutannya, Widi Hartanto menegaskan bahwa Jawa Tengah memiliki kekayaan sumber daya pangan yang sangat beragam dan belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal.
“Kita memiliki singkong, ubi, jagung, sorgum, ganyong, talas, garut, dan berbagai bahan pangan lokal lainnya yang dapat diolah menjadi produk kreatif, inovatif, dan bernilai ekonomi tinggi. Pangan lokal bukan pilihan kedua, tetapi dapat menjadi pilihan utama yang sehat, bergizi, dan berdaya saing,” tegasnya.
Menurutnya, festival ini menjadi momentum penting untuk memperkuat gerakan diversifikasi pangan sekaligus memperluas pasar produk UMKM berbasis pangan lokal.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, lanjut Widi, berkomitmen terus memberikan dukungan kepada pelaku UMKM agar mampu meningkatkan kualitas produk dan memperluas jaringan pemasaran hingga tingkat nasional maupun internasional.
“Kita ingin produk unggulan Jawa Tengah tidak hanya dikenal di daerahnya masing-masing, tetapi mampu menjadi kebanggaan Indonesia di pasar dunia,” ujarnya.
Diversifikasi Pangan Jadi Gerakan Strategis
Plt Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah di TMII, Risturino, S.IP., M.M., menjelaskan bahwa festival ini lahir dari kebutuhan untuk memperkenalkan sumber pangan alternatif yang selama ini belum mendapatkan perhatian maksimal.
Ia menegaskan Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada beras dan terigu, karena memiliki kekayaan pangan lokal yang jauh lebih beragam.
“Kami ingin produk-produk berbasis singkong, ubi, jagung, kelapa, dan komoditas lokal lainnya naik kelas. Setelah pameran ini, kami akan mengupayakan pembinaan lanjutan dan mempertemukan UMKM dengan pelaku usaha serta pasar yang lebih luas,” katanya.
Menurut Risturino, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali budaya konsumsi pangan lokal yang diwariskan oleh leluhur Nusantara.
“Sejarah menunjukkan masyarakat terdahulu mengonsumsi pangan yang jauh lebih beragam dan sehat. Nilai-nilai itu perlu kita hidupkan kembali,” ujarnya.
DPRD Jateng Soroti Perubahan Pola Konsumsi
Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Komisi B, Harun Abdul Khafizh, S.E., mengungkapkan bahwa tren konsumsi beras masyarakat Indonesia mulai mengalami perubahan positif.
Berdasarkan data tahun 2025, indeks konsumsi beras per kapita nasional telah turun hingga di bawah 100 kilogram per orang per tahun.
“Ini menunjukkan kesadaran masyarakat untuk mengurangi ketergantungan pada beras mulai meningkat. Tantangannya sekarang adalah memastikan ketersediaan pasokan dan mengubah budaya konsumsi masyarakat agar lebih terbuka terhadap sumber pangan lainnya,” jelasnya.
Harun juga menekankan pentingnya pengembangan gastrodiplomasi, yakni diplomasi melalui kekuatan kuliner daerah.
Menurutnya, promosi pangan lokal bukan hanya soal konsumsi, tetapi juga strategi memperkuat sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan identitas budaya daerah.
Paguyuban Jawa Tengah Siap Dukung UMKM Tembus Pasar Jakarta
Ketua Umum Paguyuban Jawa Tengah (PJT), KRP. Dr. Leles Sudarmanto Mangun Negoro, MM., MBA., CRP., QIA., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya festival tersebut.
Ia menilai kegiatan ini merupakan langkah nyata untuk memperkenalkan produk pangan lokal kepada masyarakat perkotaan sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM.
Bahkan, ia menawarkan kolaborasi promosi produk-produk unggulan Jawa Tengah di berbagai lokasi strategis Jakarta, termasuk kawasan transportasi modern yang memiliki mobilitas tinggi.
“Kita harus memastikan produk lokal Jawa Tengah tampil di ruang-ruang publik yang berkelas sehingga nilai dan daya saingnya semakin meningkat,” ujarnya.
Momentum Kebangkitan UMKM dan Ketahanan Pangan
Festival Olahan Pangan Jawa Tengah 2026 tidak sekadar menjadi ajang pameran produk. Kegiatan ini menjadi simbol gerakan besar membangun kemandirian pangan berbasis potensi lokal, memperkuat UMKM, sekaligus mendorong transformasi ekonomi daerah.
Dengan ditandainya pembukaan melalui tabuhan gong di TMII, Jawa Tengah mengirim pesan kuat kepada Indonesia bahwa masa depan ketahanan pangan tidak hanya bertumpu pada beras dan terigu, tetapi juga pada kekayaan pangan lokal yang selama ini tumbuh di tanah Nusantara.
Tabuhan gong di TMII bukan sekadar seremonial. Ia menjadi penanda dimulainya gerakan besar untuk mengangkat pangan lokal, memperkuat UMKM, dan membangun ekonomi yang lebih mandiri, sehat, serta berkelanjutan.
Petrus/Red



















