Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun dr. Heri Setyana saat di wawancarai awak media sesuai membuka acara pertemuan lintas sektor program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE) pada Rabu (24/9/2026)
TRIBUNCHANNEL.COM-MADIUN – Pemerintah Kabupaten Madiun melalui Dinas Kesehatan terus mematangkan langkah strategis untuk menjamin keberlanjutan layanan kesehatan mata inklusif bagi masyarakat.
Komitmen itu ditegaskan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, dr. Heri Setyana, saat membuka Pertemuan Lintas Sektor Program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE) di Madiun, Rabu (24/9/2026).
Forum yang melibatkan Bapperida, Dinas Sosial, Kemenag, Bagian Hukum, 26 Puskesmas, institusi pendidikan, hingga organisasi disabilitas ini menjadi krusial. Pasalnya, pendampingan program I-SEE bersama Yayasan Paramitra yang telah berjalan sejak April 2022 akan berakhir pada April 2027 mendatang.
“Perjalanan program bersama Yayasan Paramitra di Kabupaten Madiun sudah memasuki tahun ketiga. Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk kita pikirkan bersama, bagaimana agar program yang telah dirintis ini tetap berlanjut dan tidak berhenti saat masa pendampingan usai,” ujar dr. Heri.
Ia menegaskan, meski isu kesehatan mata belum masuk program prioritas nasional seperti stunting, TBC, atau diabetes, di bawah kepemimpinan Bupati Madiun Hari Wuryanto, Pemkab tetap menaruh perhatian besar.
“Selama ada niat dan kemauan, pasti ada banyak jalan. Apa yang sudah kita capai jangan sampai surut, minimal harus kita pertahankan dan tingkatkan demi masyarakat Madiun,” tegasnya.
Selama hampir tiga tahun, kolaborasi Dinkes Kabupaten Madiun dan Yayasan Paramitra telah mengukir capaian nyata:
1. Penguatan SDM: Pelatihan terpadu bagi nakes 26 Puskesmas, guru, kader kesehatan, dan insan media.
2. Layanan Inklusif: Penerapan pelatihan Disability Inclusive Development (DID) untuk optimalisasi pelayanan bagi penyandang disabilitas.
3. Intervensi Langsung: Skrining mata ribuan warga, pembagian kacamata gratis, penyediaan alat bantu uji visus, dan penanganan rujukan.
4. Kemandirian Desa: Terbentuknya 9 Desa Sehat Mata (Desmat) percontohan, 4 di antaranya bahkan sudah mengalokasikan anggaran khusus kesehatan mata di APBDes.
Direktur Yayasan Paramitra, Aisiah Sugianti, menyebut evaluasi tahun ini dibuat berbeda. Peserta tidak hanya mendengar paparan, tapi diterjunkan langsung ke lapangan.
Peserta dibagi 4 kelompok untuk meninjau Puskesmas Sumbersari Saradan, Desa Sehat Mata Pucanganom Kebonsari, SMPN 1 Geger, dan SLB.
“Melalui interaksi langsung dengan penerima manfaat, stakeholder dapat mendengar cerita dan tantangan secara riil. Kolaborasi ke depan bisa lebih tepat sasaran,” jelas Aisiah.
Di lokasi berbeda, Sri Wulandari, orang tua Zenita (5 th) penderita low vision asal SDLB Desa Karangrejo, Kecamatan Wungu, menuturkan kisahnya. Putrinya mengalami low vision sejak lahir dan telah difasilitasi Yayasan Paramitra untuk penanganan di RSMM Surabaya.
“Zenita harus operasi, tapi kondisinya belum memungkinkan jadi ditunda. Dijadwalkan lagi saat usia 6 tahun. Semoga ada perhatian dan bantuan pembiayaan dari Pemkab Madiun untuk kelancaran operasi anak saya nanti,” harap Sri.
Melalui sinergi lintas sektor ini, Dinkes Kabupaten Madiun optimistis sistem pelayanan kesehatan mata inklusif dapat terintegrasi permanen dalam kebijakan daerah.
Jned/Red



















