Tondano, diduga jatuh dari lantai 12 Apartemen Metro Sunter, Jakarta Utara.
TRIBUNCHANNEL.COM –JAKARTA – Nasib tragis menimpa Angklin Roring, pria asal Seretan, Tondano, yang ditemukan tewas setelah diduga jatuh dari lantai 12 Apartemen Metro Sunter, Jakarta Utara, pada jumat (14/11/25). Bukannya memberi jawaban, kondisi tubuh korban justru menimbulkan segudang pertanyaan sebab banyak bekas luka di tubuh korban.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, peristiwa itu terjadi di unit apartemen yang ditempati pria berinisial Indra Wala, yang diketahui merupakan teman dekat korban. Keduanya disebut saling mengenal karena sama-sama berasal dari Sulawesi Utara.
Namun yang membuat keluarga terpukul sekaligus curiga adalah luka-luka tak wajar yang ditemukan hampir di seluruh tubuh korban. Karena itu, pihak keluarga meminta otopsi penuh untuk memastikan penyebab dan pola kematiannya.
“Kami mohon doa dari saudara-saudara dan teman-teman Angklin. Kami ingin kebenaran terungkap apa adanya. Jenazah sudah diputuskan untuk diotopsi,” ujar Mefry Roring, kakak korban, Senin (15/11/25).
Kecurigaan makin menguat setelah salah seorang rekan korban mengaku mendapatkan pesan singkat mencurigakan dari Angklin sebelum kejadian.
“Saya terima pesan dari Angklin. Dia bilang: ‘Tolong saya, mereka mo bunuh saya.’ Setelah itu saya coba hubungi, tapi nomornya sudah tidak aktif,” ungkap sumber tersebut, yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Pesan itu kini menjadi bukti penting yang harus ditelusuri aparat untuk memastikan apakah korban benar-benar jatuh dengan sendirinya, atau ada unsur lain di balik tragedi ini.
Menanggapi polemik tersebut, Ketua Umum Barisan Masyarakat Adat (Barmas), Jenly Kawilarang, meminta aparat penegak hukum bertindak cepat, tegas, dan tanpa kompromi.
“Kami minta penyidik bekerja transparan. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Jangan sampai kasus ini diperlakukan berbeda hanya karena ada pihak yang diduga dekat dengan tokoh penting. Kami akan mengawal proses hukum sampai tuntas,” tegas Kawilarang.
Hingga kini pihak keluarga hanya menuntut satu hal: kepastian dan keadilan. Mereka berharap hasil otopsi dan penyelidikan dapat memberi jawaban atas misteri luka-luka korban serta pesan terakhirnya yang mengerikan.
Kasus ini masih dalam penanganan pihak berwenang, dan publik menunggu langkah berikutnya dari aparat untuk memastikan tidak ada fakta yang tertutup oleh waktu maupun kekuasaan.
SS/Red



















