Tahlilan oleh Ustadz Abdul Azis, sebagai bentuk doa bersama untuk para leluhur, khususnya Mbah Dashima atau Mbah Shima sebagai tokoh cikal bakal Desa Kecapi.
TRIBUNCHANNEL.COM-JEPARA– Suasana khidmat sekaligus penuh kehangatan menyelimuti gelaran Selametan Manganan di Punden Mbah Dashima (Mbah Shima), RT 34 RW 06, Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, pada Ahad malam (19/4/2026). Tradisi turun-temurun ini kembali digelar sebagai bentuk syukur masyarakat atas limpahan rezeki, keselamatan, dan keberkahan selama setahun terakhir.
Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut dihadiri oleh berbagai unsur penting desa, mulai dari Petinggi Desa Kecapi Sukambali, S.M., S.H., M.H., Ketua BPD beserta anggota, perangkat desa, Ketua RW dan RT, Babinsa, Bhabinkamtibmas, panitia sedekah bumi 2026, lembaga desa, hingga masyarakat dari berbagai kalangan. Kebersamaan tampak nyata dalam suasana guyub rukun tanpa sekat.
Kegiatan dibuka oleh pembawa acara Zaenal Arifin, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Petinggi Desa Kecapi. Dalam penyampaiannya, Sukambali menegaskan bahwa tradisi manganan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan warisan leluhur yang wajib dijaga.
“Ini adalah budaya peninggalan leluhur yang harus kita uri-uri. Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki dan keselamatan, juga sebagai doa agar Desa Kecapi tetap aman, damai, dan dijauhkan dari mara bahaya,” ujarnya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan tahlilan yang dipimpin oleh Ustadz Abdul Azis, sebagai bentuk doa bersama untuk para leluhur, khususnya Mbah Dashima atau Mbah Shima sebagai tokoh cikal bakal Desa Kecapi.

Tradisi manganan sendiri memiliki makna yang sangat mendalam. Selain sebagai wujud syukur kepada Allah SWT, kegiatan ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah berjasa membuka dan membangun desa. Warga membawa berbagai hidangan khas seperti nasi hangat, ikan asin, hingga ayam ingkung yang kemudian dinikmati bersama sebagai simbol kebersamaan dan persaudaraan.
Lebih dari itu, manganan menjadi perekat sosial yang kuat. Di tengah arus modernisasi yang kian deras, tradisi ini tetap hidup sebagai identitas budaya masyarakat agraris yang menjunjung tinggi nilai gotong royong dan kebersamaan.
Momentum ini juga menjadi pengingat bahwa kekuatan desa tidak hanya terletak pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kearifan lokal dan nilai-nilai budaya yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Dengan semangat kebersamaan dan doa yang dipanjatkan, masyarakat Desa Kecapi berharap keberkahan dan keselamatan akan terus menyertai, serta tradisi luhur seperti manganan tetap lestari sebagai jati diri yang tak tergantikan.
Petrus/Red



















