Ketua DPRD Jepara, Agus Sutisna, menilai keberhasilan Bandung menjadi pelajaran penting bagi Jepara.
TRIBUNCHANNEL.COM- Jepara-27 Juni 2039 – Di tengah ancaman krisis pangan global, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan menyusutnya produktivitas pertanian di berbagai daerah, DPRD Kabupaten Jepara mengambil langkah strategis dengan belajar langsung ke daerah yang sukses membangun ketahanan pangan berbasis masyarakat.
Dipimpin Ketua DPRD Jepara, Agus Sutisna, rombongan DPRD melakukan studi ke Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung pada Jumat (26/6/2026). Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Gin Gin Ginanjar.
Fokus utama kunjungan adalah mempelajari program “Buruan Sae” (Bergerak Bersama Urban Farming), sebuah inovasi yang berhasil mengubah lahan sempit perkotaan menjadi sumber pangan produktif bagi masyarakat.
Dari Pekarangan Menjadi Ketahanan Pangan
Program Buruan Sae mengajak warga memanfaatkan pekarangan rumah, lorong permukiman, vertikal garden, hingga media tanam sederhana untuk menanam sayuran, buah-buahan, serta mengembangkan peternakan skala rumah tangga.
Hasilnya tidak hanya memperkuat ketahanan pangan keluarga, tetapi juga membantu menekan pengeluaran rumah tangga dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kemandirian pangan.
Keberhasilan program tersebut bahkan telah menarik perhatian berbagai daerah di Indonesia dan menjadi salah satu model ketahanan pangan perkotaan yang banyak dipelajari.
Jepara Punya Modal Lebih Besar
Ketua DPRD Jepara, Agus Sutisna, menilai keberhasilan Bandung menjadi pelajaran penting bagi Jepara.
Menurutnya, jika konsep urban farming mampu berkembang di wilayah dengan keterbatasan lahan, maka Kabupaten Jepara yang masih memiliki kawasan pertanian luas seharusnya memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk membangun kemandirian pangan masyarakat.
“Kami melihat Buruan Sae sangat inspiratif. Berbeda dengan Bandung yang minim lahan, di Jepara kita justru masih memiliki lahan pertanian yang luas, baik di perdesaan maupun pinggiran kota. Karena itu, kami berencana menerapkan konsep yang sama dengan pendekatan yang disesuaikan dengan potensi Jepara,” tegas Agus Sutisna.
Ia menilai program tersebut bukan sekadar kegiatan bercocok tanam, tetapi dapat menjadi gerakan sosial-ekonomi yang memperkuat daya tahan masyarakat menghadapi gejolak harga pangan.
Dari Konsumen Menjadi Produsen
DPRD Jepara melihat bahwa salah satu tantangan daerah saat ini adalah tingginya ketergantungan masyarakat terhadap pasokan pangan dari luar.
Melalui konsep yang dipelajari di Bandung, masyarakat didorong tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen pangan dalam skala keluarga dan lingkungan.
Dengan demikian, desa-desa dapat berkembang menjadi sentra pangan produktif yang menopang kebutuhan rumah tangga sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.
Bandung Siap Dampingi Jepara
Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, menyambut positif langkah DPRD Jepara yang ingin mengadopsi praktik baik tersebut.
Ia menyatakan kesiapan pihaknya untuk berbagi pengalaman, modul pelatihan, hingga standar teknis budidaya yang telah diterapkan di Kota Bandung.
“Sinergi antardaerah seperti ini sangat kami apresiasi. Kami siap mendukung Jepara mengadaptasi Buruan Sae sesuai dengan karakteristik wilayahnya,” ujarnya.
Momentum Membangun Ketahanan Pangan Daerah
Kunjungan ini dinilai lebih dari sekadar studi banding. Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, ketahanan pangan menjadi isu strategis yang menentukan stabilitas sosial dan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, DPRD Jepara berharap hasil studi tersebut dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan dan penganggaran yang mendorong lahirnya gerakan pangan mandiri berbasis masyarakat.
Langkah ini sekaligus menjadi pesan bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar bernilai miliaran rupiah. Kadang, perubahan besar justru lahir dari pekarangan rumah, kebun kecil warga, dan kemauan bersama untuk memanfaatkan potensi yang ada.
Jika Bandung berhasil mengubah keterbatasan lahan menjadi kekuatan pangan, maka Jepara memiliki peluang lebih besar untuk menjadikan desa-desa produktif sebagai benteng ketahanan pangan masa depan. Sebuah langkah sederhana, tetapi berpotensi memberi dampak besar bagi kesejahteraan masyarakat.
Petrus/Red



















