Mayoritas Keluhkan Mual, Diare Dan Muntah,Belasan Penerima MBG Dilarikan ke RS PKU Aisyiyah Jepara
TRIBUNCHANNEL.COM-Jepara– 16 September 2026. – Kasus gangguan pencernaan yang diduga dialami penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian setelah sejumlah siswa dan guru penerima MBG dari SPPG Karangkebagusan, Kelurahan Karangkebagusan, Kecamatan Jepara, mendapatkan penanganan medis di PKU Aisyiyah Jepara.
Berdasarkan keterangan petugas perawat yang menangani pasien, total 17 orang menjalani pemeriksaan kesehatan, terdiri dari 13 siswa dan 4 guru.
Keluhan yang paling banyak disampaikan adalah mual, sakit perut, dan diare. Selain itu terdapat beberapa pasien yang mengalami muntah sehingga memerlukan penanganan medis lebih lanjut.
“Mayoritas mengeluh mual, mules, dan diare. Ada juga yang muntah,” ungkap petugas kesehatan saat dikonfirmasi media.
Menurut petugas, salah satu pasien yang dinilai mengalami keluhan paling berat adalah seorang guru dari tingkat TK yang datang dengan kondisi muntah berulang, disertai pusing dan badan lemas.
Meski demikian, setelah dilakukan pemeriksaan dan penanganan medis, seluruh pasien dinyatakan dalam kondisi stabil.
Tidak Ada Pasien Rawat Inap
Petugas kesehatan menjelaskan bahwa seluruh pasien hanya menjalani rawat jalan karena hasil pemeriksaan tidak menunjukkan kondisi yang mengharuskan perawatan intensif di rumah sakit.
“Tidak ada yang rawat inap. Semua pasien sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan,” jelasnya.
Informasi tersebut sekaligus memberikan kepastian bahwa meskipun sejumlah penerima manfaat mengalami gangguan kesehatan, kondisi mereka masih dapat ditangani tanpa harus menjalani perawatan di ruang inap.
Investigasi Harus Menyeluruh
Munculnya keluhan yang relatif seragam pada sejumlah penerima manfaat menuntut investigasi yang cepat, terbuka, dan berbasis data ilmiah. Penelusuran tidak hanya perlu difokuskan pada menu makanan yang dikonsumsi, tetapi juga pada seluruh rantai penyediaan pangan, mulai dari bahan baku, proses pengolahan, sanitasi peralatan, penyimpanan, distribusi, hingga cara penyajian makanan.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa dalam program pelayanan publik yang menyasar anak-anak sekolah, aspek keamanan pangan memiliki posisi yang sama pentingnya dengan pemenuhan gizi.
Hingga saat ini, penyebab pasti keluhan yang dialami para penerima manfaat masih menunggu hasil pemeriksaan dan kajian lebih lanjut dari pihak berwenang.
Peringatan untuk Semua Penyelenggara MBG
Peristiwa di Jepara menunjukkan bahwa setiap laporan mual, muntah, atau diare yang muncul setelah konsumsi makanan harus ditangani secara cepat dan profesional. Kecepatan respons tenaga kesehatan dan pengelola program patut diapresiasi, namun evaluasi menyeluruh tetap diperlukan agar kepercayaan masyarakat terhadap Program Makan Bergizi Gratis tetap terjaga.
Keamanan pangan bukan sekadar pelengkap program, melainkan fondasi utama yang menentukan keberhasilan program itu sendiri. Tanpa jaminan keamanan, tujuan mulia meningkatkan gizi anak bangsa dapat berubah menjadi persoalan kesehatan yang tidak diharapkan.
Petrus/Red



















