Manusia dan Jebakan Logika

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 30 September 2025 - 18:13 WIB

Ikuti Medsos Kami :

instagram youtube tiktok
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi manusia dan logika

TRIBUNCHANNEL.COM – NTT – Ditengah derasnya arus informasi, manusia kerap terlena oleh cahaya yang hanya tampak di permukaan. Publik menatap layar, menyimak kata-kata, mengagumi sikap lantang, lalu menjatuhkan penilaian. Seolah-olah suara yang paling nyaring adalah kebenaran itu sendiri. Padahal, kerap kali justru di sanalah jebakan logika mengintai.

 

Beberapa fakta menunjukkan bahwa ada Sosok baik Individu maupun Lembaga yang sungguh-sungguh bekerja—senyap, terukur, fokus pada hasil, dan tidak membutuhkan tepuk tangan publik, sering kurang mendapatkan pengakuan, bahkan kadang dipandang pesimis.

 

Sebaliknya, ada Sosok Lain yang lebih sibuk mengatur panggung, menjadikan penderitaan sebagai latar drama, dan menjual narasi perjuangannya ke publik yang berselimuti label ‘kemanusiaan’ justru sering mendapat pengakuan publik.

Sosok yang kedua inilah yang kerap memikat. Ia tampil gemerlap, penuh retorika, dan lihai mengelola emosi massa.

 

Fenomena ini bukanlah hal baru. Dalam teori komunikasi politik, strategi semacam ini dikenal sebagai pencarian popularitas melalui kontestasi simbolik. Caranya sederhana: melawan pihak besar yang kuat, dihormati, disegani sehingga publik memandang dirinya sebagai sosok yang berani, kritis, bahkan heroik. Psikologi sosial menyebutnya dengan istilah David vs Goliath Effect – sebuah kecenderungan manusia untuk lebih bersimpati pada yang tampak kecil melawan yang besar, meskipun fakta kebenarannya belum tentu demikian.

 

Ketika kasus-kasus besar mencuat, pola ini semakin nyata. Publik disuguhi pernyataan keras, kritik tajam, dan deklarasi yang terdokumentasi kamera, lalu disebarkan di ruang digital.

Baca Juga :  Seorang Wanita Naik ke Flyover Kemudian Loncat, Jangan Ditiru

 

Figur yang bersuara lantang itu dianggap “pahlawan rakyat”, Ia berhasil membangun citra sebagai corong kebenaran. Publik yang haus kepastian pun mudah terbawa arus: bersimpati, bertepuk tangan, bahkan membenci lembaga atau sosok yang Ia kritik.

Namun, di balik hiruk pikuk itu, lembaga atau sosok yang dikritik dan dibenci tersebut sebenarnya sedang bekerja.

 

 Mereka tidak banyak bersuara karena pengusutan kasus bukanlah panggung sandiwara. Setiap langkah menuntut kehati-hatian, kerahasiaan, dan strategi. Dalam dunia penyidikan, publikasi berlebihan justru berpotensi merusak proses : pelaku bisa bersembunyi, barang bukti bisa dimusnahkan, jejak kejahatan bisa hilang. Karena itu, lembaga memilih diam – bukan karena tidak bekerja, melainkan karena paham bahwa hasil tidak lahir dari sorak-sorai kamera, melainkan dari kesabaran proses.

 

Disinilah jebakan logika bekerja. Publik sering terkecoh: mengira yang paling keras bersuara adalah yang paling tulus, sementara yang memilih diam dianggap tidak serius. Padahal kenyataan bisa terbalik. Logika yang terbentuk bukanlah logika kebenaran, melainkan logika panggung—logika yang sengaja diatur oleh sang pencari popularitas agar publik memihak padanya. Ia memoles narasi, memanipulasi emosi, dan menjadikan konflik sebagai modal simpati.

 

Kita perlu waspada. Karena dalam jangka panjang, popularitas instan seperti itu tak lebih dari api jerami—menyala terang sesaat, lalu padam dan menyisakan abu. Popularitas yang lahir dari perlawanan palsu hanyalah semu, sementara kepercayaan publik yang rusak sulit dipulihkan.

Baca Juga :  Presiden RI dan Presiden Prancis Kunjungi Akademi Militer di Magelang

 

Bukan berarti kritik harus dilarang. Kritik tetap penting sebagai kontrol sosial. Tetapi kritik sejati lahir dari niat memperbaiki, bukan dari ambisi untuk mendulang popularitas. Kritik yang tulus melahirkan solusi, sedangkan kritik yang palsu hanya melahirkan sensasi.

 

Maka, mari kita ubah cara pandang kita. Jangan mudah larut dalam drama pencitraan. Jangan menilai lembaga dari seberapa sering ia tampil di layar, melainkan dari bukti kerja yang nyata. Hargailah proses yang senyap, meski tampak membosankan, karena di situlah letak kesungguhan.

 

Sebagai publik, kita pun memiliki tanggung jawab. Mari berpikir positif dan optimis. Percayalah bahwa lembaga terkait masih berproses dan mampu memperbaiki diri. Jika kita memiliki informasi yang relevan, mari sampaikan melalui jalur yang etis untuk membantu mempercepat proses penyidikan.. Itu jauh lebih berharga daripada sekadar ikut bersorak di ruang maya.

 

Pada akhirnya, yang kita butuhkan bukanlah “pahlawan panggung” yang menyalakan sorotan kamera untuk dirinya, melainkan keadilan yang nyata bagi semua orang. Dan keadilan itu tidak lahir dari retorika, melainkan dari kerja tulus, terukur, dan konsisten.

Mari bersama-sama menjaga kewarasan logika kita. Jangan terjebak oleh permainan popularitas instan. Karena sejatinya, kebenaran tidak butuh panggung; ia hanya butuh kesetiaan kita untuk terus menjaganya.

Opini

Red/E. Embu

Berita Terkait

Dituding Selewengkan Dana BOSP Rp2,4 Miliar, Kepsek SMKN 1 Kalianda Buka Suara
Dugaan Aktivitas PETI Firman Pakaya Berjalan Lancar, Penertiban Jangan Tebang Pilih
Padang Panjang Ikuti Pembahasan Optimalisasi Aset dan BUMD Bersama Komisi II DPR RI
Porprov Sumbar XVI Dibuka, Padang Panjang Turunkan 174 Atlet di 24 Cabor
PS Pasbar Tahan Imbang Tanah Datar 1-1 di Porprov XVI Sumbar
Wako Hendri Arnis Tinjau Lokasi Kecelakaan, Perkuat Langkah Pencegahan untuk Keselamatan Pengguna Jalan
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Ketua DPC GRIB Jaya Way Kanan Ajak Kader Rawat Persatuan Bangsa
Panggung Banjarmasin Berhasil Ditaklukkan, My One Band Siap Lanjut ke Palangkaraya

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 11:31 WIB

Dituding Selewengkan Dana BOSP Rp2,4 Miliar, Kepsek SMKN 1 Kalianda Buka Suara

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:19 WIB

Dugaan Aktivitas PETI Firman Pakaya Berjalan Lancar, Penertiban Jangan Tebang Pilih

Rabu, 7 Oktober 2026 - 05:51 WIB

Padang Panjang Ikuti Pembahasan Optimalisasi Aset dan BUMD Bersama Komisi II DPR RI

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:20 WIB

Porprov Sumbar XVI Dibuka, Padang Panjang Turunkan 174 Atlet di 24 Cabor

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:03 WIB

PS Pasbar Tahan Imbang Tanah Datar 1-1 di Porprov XVI Sumbar

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:41 WIB

Wako Hendri Arnis Tinjau Lokasi Kecelakaan, Perkuat Langkah Pencegahan untuk Keselamatan Pengguna Jalan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:40 WIB

Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Ketua DPC GRIB Jaya Way Kanan Ajak Kader Rawat Persatuan Bangsa

Selasa, 29 September 2026 - 18:50 WIB

Panggung Banjarmasin Berhasil Ditaklukkan, My One Band Siap Lanjut ke Palangkaraya

Berita Terbaru