Berita opini Nagekeo Nusa Tenggara Timur.
TRIBUNCHANNEL.COM –NAGEKEO – Dalam beberapa waktu terakhir, linimasa media sosial masyarakat Kabupaten Nagekeo diramaikan oleh narasi politik yang datang silih berganti. Salah satu yang mencuri perhatian publik adalah unggahan dari sebuah akun Facebook bernama Fransiska Se.
Akun ini, pada fase awal pascapelantikan Bupati dan Wakil Bupati terpilih, tampil sebagai corong optimisme. Hampir setiap langkah, agenda, dan pergerakan pimpinan daerah dikabarkan dengan nada positif, seolah menjadi catatan harian kekuasaan yang penuh harapan.
Namun waktu, seperti biasa, bekerja diam-diam menguji konsistensi. Narasi yang semula memuji mulai bergeser menjadi ungkapan kekecewaan.
Sejumlah kebijakan dinilai tak sejalan dengan ekspektasi awal. Kritik pun hadir, bukan dalam ruang formal, melainkan di panggung terbuka bernama media sosial—ruang yang oleh para ilmuwan komunikasi disebut sebagai arena public opinion shaping (Habermas, 1989).
Perubahan itu belum berhenti. Pada fase berikutnya, arah pujian tampak berbelok tajam: Wakil Bupati dielu-elukan, sementara Bupati ditempatkan dalam bingkai negatif.
Polarisasi narasi pun terbentuk. Di mata publik, akun tersebut lalu ditafsirkan sebagai representasi tim sukses yang merasa terpinggirkan—sebuah fenomena klasik dalam politik elektoral, ketika loyalitas diuji oleh distribusi kekuasaan pascapilkada (Michels, Political Parties, 1911).
Namun, benarkah tafsir itu sesederhana itu?
Dalam kajian komunikasi politik, tidak semua pesan dapat diterjemahkan secara lurus. Pujian yang berlebihan, apalagi jika dibarengi delegitimasi terhadap pihak lain, sering kali justru menjadi pisau bermata dua. Apa yang tampak sebagai dukungan, bisa saja berfungsi sebagai jebakan opini.
Seperti dikemukakan oleh teori conflict management, konflik tidak selalu diciptakan untuk memenangkan satu pihak, melainkan bisa pula direkayasa untuk melemahkan semuanya.
Pertanyaannya kemudian mengemuka: mungkinkah akun tersebut bukan aktor tunggal, melainkan alat dari kepentingan tertentu.
Sebuah instrumen untuk mengaduk relasi kekuasaan di internal pemerintahan? Jika pujian terhadap Wakil Bupati terus dibingkai dengan cara yang menyudutkan Bupati, maka yang lahir bukan harmoni, melainkan ketersinggungan.
Dan dalam politik, ketersinggungan adalah benih jarak—jarak yang kelak berbuah pada minimnya ruang koordinasi dan pengambilan keputusan bersama.
Sejarah politik lokal maupun nasional telah berkali-kali menunjukkan: konflik yang dikelola secara tidak sehat sering kali menjatuhkan mereka yang tampak paling dielu-elukan.
Pujian yang tak tulus, kritik yang tak berimbang, dan narasi yang diproduksi tanpa etika publik, pada akhirnya hanya mempercepat erosi kepercayaan.
Ditengah hiruk pikuk demokrasi digital ini, masyarakat Nagekeo patut bersikap lebih arif. Tidak setiap suara keras adalah kebenaran, dan tidak setiap pujian adalah keberpihakan.
Media sosial hanyalah panggung; aktor dan skenario di baliknya sering kali lebih kompleks dari yang terlihat. Maka, membaca politik hari ini tidak cukup dengan mata, tetapi juga dengan nalar—agar harapan bersama tidak tersesat oleh gema konflik yang sengaja dipelihara.
Tribun Channel
Red – E. Embu



















