Suasana tegang bercampur riuh tepuk tangan mewarnai Ramayana XXI Pekalongan pada Sabtu malam, 18 Oktober 2025.
TRIBUNCHANNEL.COM –Pekalongan – Suasana tegang bercampur riuh tepuk tangan mewarnai Ramayana XXI Pekalongan pada Sabtu malam, 18 Oktober 2025. Para penonton seakan diajak menyelami teror sekaligus perenungan lewat film horor terbaru karya sutradara Charles Gozali, berjudul “Tumbal Darah.”
Film yang diproduksi MAGMA Entertainment, Wahana Kreator, dan Sinemaku Pictures itu mengguncang emosi penonton sejak menit pertama. Setiap adegan menebar ketegangan yang terasa nyata—disertai desahan napas tertahan hingga jeritan kecil di ruang teater.
Mengusung dialek khas Sulawesi, “Tumbal Darah” memadukan nuansa lokal yang kuat dengan pesan moral yang dalam. Melalui sinematografi yang intens, film ini menyuguhkan bukan hanya teror visual, tapi juga refleksi tentang dosa, keserakahan, dan keberanian menebus masa lalu.
“Film ini bukan cuma soal teror, tapi tentang bagaimana manusia bereaksi terhadap ketakutan dan kekuasaan,” ungkap Charles Gozali dalam keterangannya, Minggu (19/10/2025).
Menurutnya, setiap darah yang tumpah di layar membawa simbol atas pergulatan batin manusia itu sendiri. Deretan pemain seperti Marthino Lio, Sallum Key, dan Donny Alamsyah tampil memukau dengan emosi yang menggelegar.
Ketiganya menciptakan harmoni antara aksi brutal dan drama kemanusiaan yang menggigit menjadikan film ini lebih dari sekadar tontonan horor namun juga sukses mengguncang jantung penonton
Pekalongan menjadi satu dari 11 kota yang disinggahi dalam roadshow “Tumbal Darah” sebelum tayang serentak di seluruh Indonesia pada 23 Oktober 2025. Kehadiran film ini di Kota Batik menunjukkan bahwa perfilman nasional kini semakin dekat dengan penonton di daerah, bukan hanya di kota-kota besar.
Antusiasme warga begitu tinggi. Seluruh kursi di Ramayana Pekalongan XXI dipenuhi penonton, bahkan sebagian datang dari luar kota demi menyaksikan film ini lebih awal.
Tak sekadar hiburan, pemutaran “Tumbal Darah” juga memperkuat peran bioskop daerah sebagai ruang baru interaksi budaya dan apresiasi karya anak bangsa.
Dengan alur padat, sinematografi yang menggetarkan, dan pesan kemanusiaan yang kuat, Charles Gozali kembali membuktikan dirinya sebagai salah satu sineas dengan gaya bertutur paling kuat di Indonesia.
Slamet/Red



















