Satgas MBG Batealit Perkuat Sinergi Dapur MBG, BUMDes dan UMKM Demi Gizi dan Ekonomi Lokal.
TRIBUNCHANNEL.COM-JEPARA 21 Mei 2026. — Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, menjadi sorotan tajam setelah rapat koordinasi antara Satgas MBG, pengelola dapur, paguyuban BUMDes, UMKM, Forkopimcam, dan unsur kesehatan mengungkap berbagai persoalan serius di lapangan, mulai dari kualitas menu, standar sanitasi dapur, hingga dugaan monopoli pasokan bahan baku oleh segelintir pemilik modal.
Rapat koordinasi yang digelar di Pendopo Kecamatan Batealit, Selasa (20/5/2026), dipimpin langsung Ketua Satgas MBG Kecamatan Batealit, Suhartoyo, dan dihadiri unsur Forkopimcam, koordinator MBG kabupaten yang diwakili koordinator kecamatan, paguyuban BUMDes, pelaku UMKM, pengelola dapur MBG, hingga pihak puskesmas.
Dalam forum tersebut, Satgas MBG membeberkan hasil monitoring dan evaluasi (monev) yang telah dilakukan sebanyak tiga kali terhadap dapur MBG dan sekolah penerima manfaat di wilayah Kecamatan Batealit.
Menu Dinilai Kurang Menarik dan Porsi Belum Standar
Dari hasil sidak lapangan, Satgas menemukan sebagian besar menu MBG dinilai terlalu sederhana sehingga kurang diminati anak-anak. Bahkan, sejumlah makanan disebut tidak habis dikonsumsi meski secara umum telah memenuhi komposisi dasar gizi.
Selain itu, ditemukan beberapa dapur yang dinilai masih menyajikan porsi makanan di bawah standar kebutuhan penerima manfaat.
“Sebagian besar MBG masih belum memenuhi standar yang ditentukan,” tegas Suhartoyo dalam rapat evaluasi.
Satgas juga menyoroti aspek sanitasi dapur, termasuk sistem pengolahan air yang dinilai belum memenuhi standar higienitas yang semestinya diterapkan dalam program nasional tersebut.
Puskesmas Ingatkan Risiko Kesehatan Jangka Panjang
Pihak Puskesmas Kecamatan Batealit melalui dr. Rendra menegaskan bahwa program MBG bukan sekadar pembagian makanan, tetapi investasi kesehatan jangka panjang yang harus dijalankan sesuai standar gizi dan keamanan pangan.
Menurutnya, keseimbangan protein hewani, protein nabati, kalori, dan kandungan energi wajib diperhatikan agar tidak menimbulkan dampak kesehatan di kemudian hari.
“Kalau penyajiannya tidak sesuai standar, dalam jangka panjang bisa berdampak pada hipertensi, gangguan ginjal, dan masalah kesehatan lainnya,” tegas dr. Rendra.
Ia juga mengingatkan agar seluruh dapur MBG mengikuti petunjuk teknis resmi tanpa mengurangi porsi maupun kualitas bahan makanan.
Dugaan Monopoli Pasokan Mengemuka,Sorotan paling tajam muncul saat pembahasan keterlibatan UMKM dan BUMDes lokal dalam rantai pasok kebutuhan dapur MBG.
Dalam forum tersebut terungkap bahwa sebagian besar pasokan bahan baku masih dikuasai secara individual dan belum melibatkan potensi usaha masyarakat sekitar secara maksimal.
“Kesimpulannya, pasokan bahan baku masih dimonopoli segelintir pemilik modal,” ungkap Suhartoyo.
Pernyataan itu memicu perhatian serius peserta rapat, terutama dari kalangan BUMDes dan pelaku UMKM yang mengaku selama ini kesulitan masuk sebagai pemasok resmi kebutuhan dapur MBG.
BUMDes dan UMKM Mengaku Belum Dilibatkan,Ketua Paguyuban BUMDes Kecamatan Batealit, Samsul, menyampaikan bahwa hingga kini belum ada keterlibatan maksimal BUMDes dalam program MBG, padahal potensi usaha lokal dinilai sangat mencukupi.
Menurutnya, BUMDes telah membentuk paguyuban dan mengoordinasikan berbagai UMKM, mulai dari peternak ayam petelur, peternak puyuh, peternak ikan, produsen tahu-tempe hingga petani sayur yang siap menyuplai kebutuhan dapur MBG sesuai standar kualitas.
“BUMDes adalah kepanjangan tangan desa yang menaungi UMKM. Kalau dilibatkan, ekonomi desa akan ikut tumbuh,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan sejumlah pelaku usaha lokal. Salah satu peternak puyuh dari Desa Mindahan mengaku mampu memproduksi hingga 8.000 butir telur per hari, namun belum pernah dilibatkan sebagai pemasok kebutuhan MBG di Kecamatan Batealit.
Sementara peternak ayam petelur menyebut kapasitas produksi telur di wilayah Batealit bahkan surplus dan siap memenuhi kebutuhan dapur MBG.
Koordinator MBG Dorong Sistem Katalog dan Sinergi
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Koordinator MBG Kecamatan Batealit, Mukhamad Bahrul Ulum, mendorong agar seluruh UMKM lokal dihimpun dan dikoordinasikan melalui BUMDes agar memiliki katalog produk yang jelas dan terstandar.
Menurutnya, pola tersebut penting agar dapur MBG lebih mudah melakukan kerja sama resmi melalui mekanisme penawaran dan nota kesepahaman (MoU).
“Harapannya bukan hanya gizi masyarakat yang terpenuhi, tetapi ekonomi lokal juga ikut bergerak,” ujarnya.
Ia juga mengakui selama ini keterlibatan UMKM masih banyak berjalan secara individual sehingga belum terkoordinasi secara menyeluruh.
Camat Minta Pengawasan Diperketat
Sementara itu, Camat Batealit, Yenny Diah Sulistiyani, menegaskan bahwa tujuan MBG bukan hanya pemenuhan gizi bagi anak-anak, ibu hamil, dan balita, tetapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.
Ia meminta seluruh dapur MBG di wilayah Batealit mulai menggandeng UMKM lokal yang dikoordinasikan melalui BUMDes agar manfaat ekonomi program dapat dirasakan masyarakat desa.
Yenny juga meminta pengelola dapur tidak menghalangi kegiatan pengawasan dari Forkopimcam maupun Satgas MBG.
“Forkopimcam memang wajib melakukan pemantauan pelaksanaan MBG di wilayah Kecamatan Batealit,” tegasnya.
Rapat koordinasi tersebut menghasilkan komitmen bersama untuk memperkuat pengawasan, meningkatkan standar kualitas makanan dan sanitasi dapur, serta memperluas keterlibatan UMKM dan BUMDes lokal dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Kecamatan Batealit.
Petrus/Red



















